Character

Jika Anda diminta untuk mendefinisikan sosok seorang pemimpin sejati, bagaimana Anda akan mengungkapkannya? Visi Kolese Gonzaga mendefinisikannya sebagai “pemimpin yang memiliki keunggulan, kompetensi, tanggung jawab, sikap terbuka, daya integratif dengan semangat pelayanan dan kepedulian”.
Untuk membentuk sosok pemimpin yang seperti itulah Kolese Gonzaga mengambil tema dasar “Kejujuran, Komitmen dan Kesederhanaan” sebagai program pembentukan karakter. Dengan tema ini, Staf Moderator mencoba melihat sosok pemimpin yang hendak dibentuk. Sosok pemimpin sejati dapat secara ringkas didefinisikan sebagai “pemimpin yang jujur, yang mampu membangun komunikasi dengan orang lain dan dapat menjadi teladan nilai kesederhanaan di tengah gelimang nafsu konsumtif yang merebak dalam masyarakat”.

KEJUJURAN (HONESTY)

Kejujuran berarti tidak ada kontradiksi atau perbedaan dalam pikiran, kata-kata, atau tindakan. Menjadi jujur bagi diri sendiri yang nyata dan untuk tujuan tugas tertentu menghasilkan rasa percaya dan mengilhamkan iman kepada orang lain. Kejujuran berarti tidak pernah untuk menyalahgunakan apa yang diberikan dengan rasa percaya. Akan tetapi, konsep tentang kejujuran dapat membingungkan dan mudah dimanipulasi karena sifatnya yang lebih interior. Perilaku jujur mengukur kualitas moral seseorang di mana segala pola perilaku dan motivasi tergantung pada pengaturan diri (self-regulation) seorang individu.
Kejujuran merupakan kualitas manusiawi melalui makna manusia mengkomunikasikan diri dan bertindak secara benar (truthfully). Karena itu, kejujuran sesungguhnya berkaitan erat dengan nilai kebenaran, termasuk di dalamnya kemampuan mendengarkan, sebagaimana kemampuan berbicara, serta setiap perilaku yang bisa muncul dari tindakan manusia. Secara sederhana, kejujuran bisa diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk mengekpresikan fakta- fakta dan keyakinan pribadi sebaik mungkin sebagaimana adanya. Sikap ini terwujud dalam perilaku, baik jujur terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri (tidak menipu diri), serta sikap jujur terhadap motivasi pribadi maupun kenyataan batin dalam diri seorang individu.
Kualitas kejujuran seseorang meliputi seluruh perilakunya, yaitu, perilaku yang termanifestasi keluar, maupun sikap batin yang ada di dalam. Keaslian kepribadian seseorang bisa dilihat dari kualitas kejujurannya.
Meskipun tergantung pada proses penentuan diri, kita tidak bisa mengklaim bahwa pendapat diri kita sematalah yang benar. Seandainya kita telah meyakini bahwa pendapat kita merupakan pendapat yang menurut kita paling baik, perlulah tetap mendengarkan pendapat orang lain. Setiap keyakinan pribadi menyisakan bias subjektivitas yang bisa saja mengabur- kan diri kita dalam memahami realitas sebagaimana adanya. Sikap jujur dengan demikian bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk senantiasa bersikap selaras dengan nilai-nilai kebenaran (to be truthful), sebuah usaha hidup secara bermoral dalam kebersamaan dengan orang lain.
Kualitas keterbukaan kita terhadap yang lain akan menentukan kadar kejujuran atau ketidakjujuran kita. Namun seringkali keterbukaan ini tergantung pada pemahaman diri kita terhadap realitas, termasuk pemahaman nilai-nilai moral yang kita yakini. Keyakinan moral seseorang bisa saja keliru. Namun persepsi diri kita tentang nilai-nilai moral tidaklah statis. Ia dinamis seiring dengan banyaknya informasi dan pengetahuan yang kita terima. Ketika kita menolak untuk menerima perspektif atau sudut pandang lain yang berbeda dengan diri kita, biasanya, ini merupakan pertanda bahwa kita kurang memiliki minat akan kebenaran. Sikap demikian ini bisa dikatakan sebagai sikap mengabaikan nilai kejujuran (dishonesty).
Mengupayakan nilai kejujuran tidak sama dengan memperjuangkan ideologi yang sifatnya lentur dan bisa berubah setiap saat. Inilah mengapa, meskipun kita tahu bahwa kejujuran itu sangat penting bagi kehidupan, nilai kejujuran sulit (untuk mengatakan tidak dapat) menjadi norma sebuah budaya masyarakat. Ideologi senantiasa mencari pendukung yang mem- perkuat gagasannya dan mendukung sudut pandangnya sendiri sementara menolak dan meng- abaikan pandangan orang lain. Pendekatan ideologis menganggap bahwa cara-cara mereka merupakan satu-satunya cara yang benar. Pendekatan ini justru mengikis praksis perilaku jujur dan meningkatkan konflik bagi setiap relasi antarmanusia.
Kejujuran memiliki kaitan yang erat dengan kebenaran dan moralitas. Bersikap jujur merupakan salah satu tanda kualitas moral seseorang. Dengan menjadi seorang pribadi yang berkualitas, kita mampu membangun sebuah masyarakat ideal yang lebih otentik dan khas manusiawi. Sebagai contoh, Sokrates mengatakan, jika seseorang sungguh-sungguh mengerti bahwa perilaku mereka itu keliru, mereka tidak akan memilihnya. Seseorang itu akan semakin jauh dari kebenaran dan karena itu tidak jujur jika ia tidak menyadari bahwa perilakunya itu sesungguhnya keliru. Kesadaran diri bahwa setiap manusia bisa salah dan mengakuinya adalah langkah awal tumbuhnya nilai kejujuran dalam diri seseorang.
Dalam sudut pandang Kristiani, norma moral dasar yang bisa ditarik dari kutipan Injil adalah sabda Yesus sendiri, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39). Dari ayat ini, kita bisa memahami bahwa:
1. Perilaku individu akan menentukan kualitas komunitas/masyarakat di mana ia hidup;
2. Individu tidak sekedar melakukan apa yang benar dan baik, melainkan perilaku benar dan baik ini bisa diuji secara timbal balik melalui keberadaan orang lain. Secara sederhana peri- laku jujur merupakan sebuah tindakan untuk menghindari kebohongan, mencuri, dan me- nipu melalui cara apapun.
Kejujuran sejati bukan sekedar kesediaan kita menerima diri dan orang lain sebagaima- na adanya demi kelangsungan hidup bersama, tetapi juga berarti bahwa kita jujur tentang kemungkinan dan potensi yang kita miliki sebagai individu. Inilah dimensi kreatif dari makna kejujuran. Kita tidak sekedar menerima diri kita apa adanya, sebagai langkah awal kejujuran, tetapi juga kemudian mengembangkan segala potensi dan kemungkinan yang kita miliki. Inilah yang senantiasa menjadi penjaga bagi kita dalam menghadapi setiap tantangan ke depan.
Perilaku ketidakjujuran akademis (academic dishonest) secara praktis dalam konteks pendidikan antara lain:
1. Plagiarisme (plagiarism): sebuah tindakan mengadopsi atau mereproduksi ide, atau kata- kata, dan pernyataan orang lain tanpa menyebutkan narasumbernya.
2. Plagiarisme karya sendiri (self plagiarism): menyerahkan atau mengumpulkan tugas yang sama lebih dari satu kali untuk mata pelajaran yang berbeda tanpa izin atau tanpa memberi- tahu guru yang bersangkutan.
3. Manipulasi (fabrication): pemalsuan data, informasi atau kutipan-kutipan dalam tugas-tugas akademis apapun.
4. Pengelabuan (deceiving): memberikan informasi yang keliru, menipu terhadap guru berkaitan dengan tugas-tugas akademis, misalnya, memberikan alasan palsu tentang mengapa ia tidak menyerahkan tugas tepat pada waktunya, atau mengaku telah menyerahkan tugas padahal sama sekali belum menyerahkannya.
5. Menyontek (cheating): berbagai macam cara untuk memperoleh atau menerima bantuan dalam latihan akademis tanpa sepengetahuan guru.
6. Sabotase (sabotage): tindakan untuk mencegah dan menghalang-halangi orang lain sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugas akademis yang mesti mereka kerjakan.
Tindakan ini termasuk di dalamnya, menyobek/menggunting lembaran halaman dalam buku-buku di perpustakaan, ensiklopedi, dll, atau secara sengaja merusak hasil karya orang lain.
Perilaku ketidakjujuran akademis ini telah banyak terjadi di dalam lingkup pendidikan, mulai dari lingkup sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dengan kadar pelanggaran yang berbeda. Pada masa kini, dalam lingkup akademik, perilaku ketidakjujuran akademis seperti ini dipandang sebagai perilaku negatif yang tidak terpuji.

KOMITMEN (COMMITMENT)

Komitmen berasal dari kata commitment (an agreement or a pledge to do something in the future – Inggris). Dengan kata lain, komitmen adalah sebuah persetujuan atau janji atau kesanggupan untuk melaksanakan sesuatu di masa depan. “Komitmen” berasal dari kata dalam Bahasa Latin co-mittimus. Artinya, co berarti “bersama”, mittimus berarti “kami mengutus”. Mittimus berasal dari kata kerja dalam Bahasa Latin mittere yang berarti “mengutus”. Semangat perutusan bersama itulah yang kemudian menjadi landasan untuk sebuah komitmen.
Sebagai komunitas pembelajar, Kolese Gonzaga didirikan atas dasar semangat untuk diutus bersama menjalankan sebuah karya bersama dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, perlu sebuah kesanggupan bersama, saling mendukung satu dengan yang lain, dan mengevaluasi dalam proses bersama. Tujuannya adalah sebuah hasil yang mau dicapai secara optimal. Sebagaimana sebuah tim yang menjalankan tugas dan tanggung jawab, kesanggupan harus diwujudkan demi tujuan tertentu ke depannya.
Pendidikan merupakan intervensi sosial bagi pembentukan generasi muda agar mereka bertumbuh secara maksimal menjadi pribadi yang mandiri, dewasa dan bertanggungjawab. Dalam kerangka kebersamaan, komitmen tidak lepas pula dari proses komunikasi. Komitmen tanpa sebuah komunikasi antarpihak dalam kerjasama, tidak akan ada hasil yang diwujudkan. Konsekuensi proses pendidikan adalah proses komunikasi.
Sebagai pelajar Kolese Gonzaga, semangat untuk jujur dan bertanggung jawab perlu diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari. Komitmen diperlukan untuk membentuk karakter sebagai manusia muda yang akan mengemban tugas dan tanggung jawab masa depan yang perlu dipersiapkan sejak dini. Inilah semangat yang dibutuhkan sebagai pemimpin dan pribadi yang bertanggung jawab. Singkatnya, komitmen adalah sebuah kesanggupan kita bersama.

KESEDERHANAAN (SIMPLICITY)

Menanamkan nilai-nilai kesederhanaan menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik di tengah arus masyarakat yang memuja pemuasan nafsu membeli. Nilai kesederhanaan berkaitan dengan sikap ugahari, yaitu sebuah perilaku untuk mempergunakan sesuatu apa adanya sesuai kebutuhan, tidak melebihi apa yang seharusnya.
Sikap sederhana tentu berlawanan dan dibedakan dengan sikap tidak sederhana. Sikap yang tidak sederhana biasanya muncul dalam kegiatan yang bersifat berlebihan, misalnya suka ikut prom nite di sebuah hotel, pesta-pesta yang tidak berkaitan dan tidak bermakna bagi proses pendidikan, penggunaan mobil ke sekolah tanpa izin, pamer barang mewah (mobil, handphone, dan lain-lain), konsumsi berlebihan, membuang-buang waktu demi kesenangan sia-sia, dan lain- lain.
Sebaliknya, sikap sederhana muncul dalam kegiatan yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, misalnya, tidak ikut prom nite di sebuah hotel atau pesta-pesta, menggunakan mobil ke sekolah dengan izin, menggunakan barang-barang sesuai kebutuhan dan bukan untuk mencari perhatian, konsumsi secukupnya, memanfaatkan waktu untuk serius melakukan hal-hal yang sangat bermakna dan sangat membahagiakan diri, dan lain-lain. Maka dari itu, dalam kerangka pendidikan, sikap sederhana ini bisa diwujudkan dalam penggunaan sarana dan prasarana secara maksimal demi pengembangan diri, semangat bekerja keras dalam belajar dan menempa diri.
Melalui tiga tema pendidikan karakter, yaitu kejujuran, komitmen dan kesederhanaan, Kolese Gonzaga ingin merealisasikan visi dan misinya sebagai wujud tanggung jawab mereka dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sebuah masyarakat yang lebih manusiawi, otentik, peka dan solider pada orang lain. Melalui tiga nilai ini, Kolese Gonzaga ingin merealisasikan visinya, yaitu “membentuk pemimpin yang memiliki keunggulan, kompetensi, tanggung jawab, sikap terbuka, daya integratif dengan semangat pelayanan dan kepedulian.”